Yang Terpilih

Dear Diary,

Hari ini, aku diminta Allah untuk bertemu dengan seorang wanita muda. Wanita itu sangatlah sederhana. Aku melihat wajahnya terkejut, ketika aku memberi salam kepadanya. Ia tidak menjawab salamku, Ia juga tidak bertanya-tanya tentang siapa aku ini, Ia terpaku melihatku, ya mungkin karena rasa terkejutnya.

Banjir

Dear Dairy,

Sudah beberapa hari aku dan keluargaku tinggal di tempat ini. Di sini kami hanya 8 orang, aku dan istrinya, ketiga anakku dan istri masing-masing. Tetapi tempat ini tidak pernah sepi, karena ada berbagai pasang binatang. Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, hanya mendengar suara hujan yang tiada berhenti.

Penyesalan

Dear Diary,

Beberapa waktu yang lalu, aku tinggal di tempat yang sangat indah. Pohon-pohon yang segar dan berbuah lebat. Bisa bermain dengan para hewan di dalamnya. Tetapi....tempat yang indah itu sekarang ini hanya menjadi masa lalu. Karena kesalahanku dan suamiku, kami diusir dari tempat itu oleh pemiliknya.

Tugasku Selesai

Dear Diary,

Sorry kalau aku baru bisa nulis lagi, sekarang ini aku mau menceritakan kelanjutan kisahku. Akhirnya dengan berat hati aku melangkahkan kakiku ke Niniwe. Kota Niniwe itu sangat besar, kalau keliling tuh kota gak akan cukup deh sehari.

Pengalamanku

Dear Diary,

Wooohooo, akhirnya aku kembali melihat terang, menghirup udara yang segar. Jangan tanya deh apa yang aku rasakan di dalam tempat yang gelap dan pengap. Bayangin aja aku ada di dalam perut ikan selama tiga hari. Di sana aku sih berdoa…tapi tetap aja ya…kalo di ruangan yang gelap dan pengap, rasanya gimana gitu….

Sebentar lagi aku akan berangkat ke Niniwe. Sebenarnya, aku tidak mau ke sana, aku tidak suka orang-orang Niniwe itu. Mereka itu sangat jahat. Dan emangnya ada efeknya untuk memberitahukan mereka kalau Tuhan akan menghukum mereka? Kayanya ga ada ya.

Si Pemberani

Dear Diary,

Setelah 40 hari hidup di dalam ketakutan, akhirnya kami terbebas.

Gimana tidak takut, seorang dari Gat yang memiliki tinggi 6 hasta sejengkal terus menerus menantang kami bertarung. Kami takut sekali, ia sama sekali tak terlawankan. Ia memakai ketopong tembaga di kepala. Lalu baju zirahnya, beratnya aja kira-kira 5000 syikal tembaga. Bayangin deh tuh beratnya. Tombak tembaga ada di bahunya….Pokoknya sudah sangat siap perang.

Temu Kangen dengan Adikku

Dear Diary,

Beberapa waktu lalu aku pernah menuliskan bagaimana aku begitu membenci salah seorang adikku. Adik-adikku yang lain menjualnya sebagai budak dan kami akhirnya berbohong kepada ayah. Sekarang ini aku ingin bercerita bagaimana aku bertemu kembali dengan adikku. Ceritanya dapat dibaca di sini.

Aku benci adikku

Dear Diary,

Aku benci salah satu adikku. Bukan aku saja yang membencinya, adik-adikku yang lain juga membencinya. Gimana tidak, ia selalu mengadukan apa yang kami lakukan terhadap ayah. Dasar tukang ngadu!!!! Tidak hanya itu saja, ayah pun lebih mengasihinya dibanding kami. Coba bayangkan…ayah membuatkan sebuah jubah yang indah untuknya, sedangkan kami….boro-boro dibuatkan, berencana untuk membuatkannya saja tidak.

Kisah Mamaku

Dear Diary,

Hari ini aku mendengar kisah bagaimana mama bisa tinggal di Betlehem, dan bagaimana mama bisa tinggal bersama Nenek Naomi yang bukan mama kandungnya.

Mama lahir di Moab, sedangkan Nenek Naomi berasal dari Betlehem. Kata mama, waktu itu terjadi kelaparan di tanah Israel, sehingga suami nenek, Kakek Elimelekh meutuskan untuk membawa istrinya dan kedua anaknya, Om Mahlon dan Om Kilyon ke daerah Moab, untuk menetap di sana sebagai orang asing.

Subscribe to blog.santapanharian.org RSS