Temu Kangen dengan Adikku

Dear Diary,

Beberapa waktu lalu aku pernah menuliskan bagaimana aku begitu membenci salah seorang adikku. Adik-adikku yang lain menjualnya sebagai budak dan kami akhirnya berbohong kepada ayah. Sekarang ini aku ingin bercerita bagaimana aku bertemu kembali dengan adikku. Ceritanya dapat dibaca di sini.

Suatu ketika terjadi kelaparan hebat di bumi, hanya Mesir saja yang terbebas dari bencana kelapara itu. Kami tidak dapat berbuat apa-apa, sampai ayah meminta kami untuk pergi ke Mesir membeli gandum. Ketika tiba di Mesir, kami bertemu dengan mangkubumi yang bertugas menjual gandum. Ia menuduh kami sebagai pengintai. Duh….tuh mangkubumi nyebelin buanget. Akhirnya kami memperkenalkan diri kami, dan memberitahukan bahwa kami 12 bersaudara, tetapi adik kami yang paling kecil ada bersama ayah, dan yang satu lagi sudah tidak ada.

Mangkubumi tidak percaya apa yang kami ucapkan, sehingga ia minta kami untuk membuktikan ucapan kami. Kami diminta untuk membawa Benyamin bertemu dia sebagai bukti kalau kami tidak bohong. Alamak….gimana aku minta ijin kepada ayah untuk membawa Benyamin. Dan gilanya, Simeon, adikku ditahan di Mesir, sampai kami balik ke Mesir dan memperlihatkan Benyamin kepadanya. Aih….pusing aku….sampai aku berkata kepada adik-adikku, kalau ini akibat perbuatan di masa lalu, sekarang darah Yusuf menuntut balas. Tetapi ya sudahlah, aku dan adik-adikku tidak bisa berbuat apa-apa, karena kami sangat membutuhkan gandum itu.

Di dalam perjalanan pulang, lagi-lagi hal kami menemukan hal yang aneh. GImana tidak, uang yang kami berikan untuk membayar gandum ada dikarung. Ah….ini pasti hukuman atas apa yang aku perbuat, pikirku.

Sesampai di rumah, kami menceritakan semuanya kepada ayah. Dan seperti yang aku duga, ayah sangat sedih ketika kami bilang kami perlu membawa Benyamin. Ia bertanya kepada kami, apakah ia harus kehilangan anaknya lagi. Aku memberanikan diri untuk menjamin keselamatan anak-anakku, jika Benyamin tidak dapat aku bawa kembali kepada ayah. Tetapi ayah tidak mau mendengar.

Tetapi mau tidak mau kami harus kembali ke Mesir, karena persediaan gandum pun sudah habis. Kali ini adikku, Yehuda yang menjamin keselamatan Benyamin. Akhirnya dengan berat hati, ayah mengijinkan Benyamin untuk ikut kami membeli gandum di Mesir.

Sesampai di Mesir, kami memperkenalkan Benyamin kepada Mangkubumi Mesir. Tidak aku duga, kami dijamu makan di sana. Simeon pun dibebaskan. Hanya yang aku bingung, Mangkubumi itu bisa mengatur posisi duduk kami, dari aku yang paling sulung berurutan sampai Benyamin. Dan yang lebih aneh lagi, aku melihat, Benyamin koq dikasih makan lebih banyak dari kami semua. Tetapi sudahlah tidak ada waktu untuk iri terhadap apa yang diterima oleh Benyamin.

Setelah selesai dijamu makan, kami pun pulang. Tetapi lagi-lagi *ternyata beli gandum aja ribet amat deh sama Mesir, para tentara Mesir mengejar kami. Duh….ada apa lagi sih, pikirku dalam hati. Kami dituduh mengambil piala Mangkubumi Mesir itu. Karung-karung gandum yang kami bawa di geledah oleh mereka, dan aku shock setengah mati ketika melihat piala itu ada di karungnya Benyamin. Benyamin gak mungkin melakukan itu.

Mau tidak mau kami harus kembali ke Mesir. Mangkubumi itu mau menahan Benyamin. Ditengah ketakutan kami, adikku, Yehuda memohon supaya dirinya diperbolehkan menggantikan Benyamin.

Tiba-tiba Mangkubumi itu menyuruh semua orang yang ada di ruangan itu keluar. Aku dan adik-adik kaget dan takut setengah mati, ketika Mangkubumi itu menangis. Lebih kaget lagi ketika ia mengaku bahwa dirinya adalah Yusuf. Kami semua gemetaran, bagaimana mungkin? Kami takut setengah mati, kalau Yusuf ingin membalas dendam karena telah berbuat jahat kepada mereka. Tetapi Yusuf malah memeluk kami dan berkata bahwa semua ini telah direncanakan Tuhan, kalau ia dikirim ke Mesir untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum masuk ke masa kelaparan. Aku pun merasa lega…

Kami pun kembali kepada ayah, dan menceritakan kabar baik ini. Ayah sangat kaget dan bersyuka cita mendengar kabar ini, bahkan buru-buru ingin bertemu Yusuf, katanya sebelum ia mati ia mau melihat Yusuf.

Akhirnya, kami semua pindah ke Mesir. Aku dan adik-adikku memang sangat jahat sama Yusuf di masa lalu, tetapi ia mau memaafkan kami.

Mimpi yang Yusuf ceritakan puluhan tahun silam menjadi kenyataan, Aku dan seluruh adik-adikku, bahkan ayahku, menyembah kepada Yusuf, karena dia salah satu pemegang kekuasaan di Mesir.

Mengingat semua hal ini, ada penyesalan di hatiku, tetapi aku bersyukur melihat bagaimana tangan Tuhan menolong aku dan keluargaku, dapat menghadapi masa-masa kelaparan selama 7 tahun.

Sekarang aku dan keluargaku menjadi penghuni Mesir. Disinilah kami hidup. Ntah sampai kapan, mungkin sampai aku menghembuskan nafas terakhirku.