Si Pemberani

Dear Diary,

Setelah 40 hari hidup di dalam ketakutan, akhirnya kami terbebas.

Gimana tidak takut, seorang dari Gat yang memiliki tinggi 6 hasta sejengkal terus menerus menantang kami bertarung. Kami takut sekali, ia sama sekali tak terlawankan. Ia memakai ketopong tembaga di kepala. Lalu baju zirahnya, beratnya aja kira-kira 5000 syikal tembaga. Bayangin deh tuh beratnya. Tombak tembaga ada di bahunya….Pokoknya sudah sangat siap perang.

Tetapi, tiba-tiba saja, ada seorang anak kecil menyelinap di antara kami. Bukan menyelinap sih, tetapi sebenarnya ia menanyakan kabar kakak-kakaknya yang ada di tempat itu bersama kami. Kemudian ia menghadap Raja, lalu berkata kepada raja supaya jangan patah hati terhadap raksasa itu. Astaga….anak itu gak tau apa siapa yang dihadapinya, ia masih muda, sedang raksasa itu adalah prajurit sejak masa mudanya. Sedang ia hanya seorang gembala.

Anak itu tetap kekeh mau melawan si raksasa itu, ya sudah akhirnya raja meminta ia memakai baju perang, tetapi karena ia tidak terbiasa memakai baju perang, tentu saja ia kesulitan untuk berjalan. Dan lagi-lagi ia memberikan pernyataan yang mengejutkan, ia tidak mau pakai baju perang. Anak itu benar-benar Nekad.

Diary, tahu tidak, ia hanya pergi menghadap si raksasa itu dengan tongkat gembala, lalu ia pergi ke sungai untuk mengambil 5 buah batu yang licin dan taruh di kantong gembalanya dan membawa umban ditangannya. Belum pernah aku lihat orang yang mau bertarung hanya membawa itu aja.

Orang Filistin melihat anak itu tertawa dan menghinanya. Tetapi anak itu tetap tenang saja. Anak itu mengambil batu yang ada di kantongnya, kemudian diumbannya, dan sekali umban batu itu tertanam di dahi raksasa itu, hingga raksasa itu roboh.

Sorak sorai terdengar, bangsa Filistin lari kocar kacir, ketika melihat pahlawan yang dapat melindungi mereka telah mati.

Peristiwa itu terekam jelas diingatanku, tetapi perkataan anak itu terus terngiang di telingaku, ia berkata sebelum melawan raksasa itu…bahwa Allah yang berperang untuk kami. Ya, kami telah melupakan Allah, kami begitu sangat ketakutan, sehingga kami lupa, kami adalah barisan Allah.

Semoga kami tidak melupakan hal itu sepanjang sisa hidup kami.