Tugasku Selesai

Dear Diary,

Sorry kalau aku baru bisa nulis lagi, sekarang ini aku mau menceritakan kelanjutan kisahku. Akhirnya dengan berat hati aku melangkahkan kakiku ke Niniwe. Kota Niniwe itu sangat besar, kalau keliling tuh kota gak akan cukup deh sehari.

Sesuai dengan firman yang aku terima, aku mengumumkan kepada Niniwe kalau 40 hari lagi kota Niniwe akan ditunggangbalikan. Aku pikir mereka pasti tidak akan memperdulikan apa yang aku sampaikan, tetapi ternyata aku salah. Ntah gimana ceritanya, mereka percaya sama yang aku ucapkan. Ajaibnya lagi, semua orang di situ pakai kain kabung, bahkan…raja pun ganti jubah dengan kain kabung dan duduk di atas abu.

Luar biasa, kaget juga liat semua ini. Dan seperti yang sudah ku duga, Tuhan itu maha pengasih dan pengampun. Dia melihat apa yang terjadi di Niniwe, Dia tidak jadi menghukum Niniwe. DIa melihat bagaimana rakyat NIniwe berbalik dari perbuatan jahat mereka. Melihat itu, aku sangat marah sama Tuhan.

Sangat marah sama Tuhan, bahkan aku meminta Tuhan untuk mencabut nyawaku. Tetapi sudahlah, aku pergi saja dari kota itu, aku mendirikan pondok dan duduk saja di situ, sambil melihat kira-kira apa yang terjadi ya atas kota itu. Lagi asik-asik duduk, tiba-tiba ada pohon jarak tumbuh untuk menaungi kepalaku. Wuidih ademnya…pohon itu sedikit menghibur hatiku.

Tapi tahu nda, diary, besoknya pohon itu hilang dimakan ulat. Hilangnya pohon itu membuat matahari langsung menyengat kepalaku….sakit sekali, sampai lagi-lagi aku bilang kalau lebih baik aku mati, tapi tiba-tiba Tuhan berkata kepadaku, kalau buat pohon aja aku sedih, gimana Tuhan gak sayang sama Niniwe bangsa yang besar itu.

Ah…aku menyerah, Tuhan memang maha pengasih. Ya aku tahu Tuhan mengasihi bangsa Niniwe, walau dalam hatiku masih belum bisa menerima. Tetapi ya mo gimana lagi, segala sesuatunya ada di dalam tangan-Nya. Aku lari aja, tetap saja ditangkap oleh-Nya.

Ya…tugasku sudah selesai, sebaiknya aku bergegas untuk kembali ke tempat asalku.